Tentang Rabu Abu, Mengapa Di Dahi?

20130214-004934.jpg

Selain untuk mengingatkan bahwa kita semua berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu, peletakan abu di dahi ini ternyata juga ada maknanya.
Jika diletakkan di dahi, kita tidak bisa melihat abu yang ada di dahi kita masing-masing. Tapi, kita bisa melihat abu yang ada di dahi orang lain. Ini melambangkan manusia yang bisa dengan mudahnya melihat betapa ‘kotor’nya orang lain tetapi tidak menyadari bahwa dirinya juga sama. Supaya bisa melihat abu di dahi kita, kita harus becermin. Supaya bisa menyadari kesalahan-kesalahan kita, kita harus berefleksi.
Selamat menyambut masa Prapaskah 🙂

Advertisements

C̶o̶f̶f̶e̶e̶ Life Making Process

(Bukan, ini bukan artikel panduan cara bikin kopi)

Akhir-akhir ini saya memang cukup jarang minum kopi. Lebih tepatnya sih, sengaja mengurangi konsumsi kopi, karena lambung saya sepertinya punya dendam tersendiri dengan kafein. Dia suka ngambek kalau harus berjumpa dengan senyawa satu itu. Akhirnya, dari yang dulu hampir tiap hari minum kopi, sekarang seminggu sekali pun belum tentu. Kalau minum pun biasanya yang instan, secara lebih praktis dan karena saya bukan penikmat kopi yang sampai gila-gilaan, kopi instan pun rasanya sudah cukup enak :p Dan, sekali minum paling separuh sachet.

Sore hari ini hujan, dan muncullah niat buat minum kopi. Kayaknya asik, kali ya, sore-sore, hujan, minum kopi. Namun, kali ini bukan lagi kopi instan. Saya mengeluarkan coffee press dari lemari dan kopi yang sudah digiling dari freezer. Mengambil satu sendok makan kopi, memasukkannya ke coffee press, kemudian menuangkan air panas. Mengambil cangkir, memasukkan 2 sendok teh krimer dan 1 sendok teh gula. Saya menunggu sekitar 5 menit. (Akhirnya rada kelupaan, sih. Jadi hampir 10 menit, hehe). Setelah itu saya press kopinya lalu menuang ke cangkir sambil mengaduk (ini cara asal-asalan saya, pengen aja, entah berpengaruh atau tidak hahaha). Aroma kopi menyeruak, meninggalkan sebersit senyuman di bibir. Menghirup aroma kopi memang menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Rasanya begitu menenangkan. Saya curiga aroma kopi memang mempunyai efek therapeutic. :p

Puas menghirup aroma kopi, saya pun menyeruput kopi. Tidak sampai 5 menit, cangkir saya sudah kosong. Ada yang aneh, rasanya. Tapi, saya tidak memusingkannya dan membawa cangkir serta coffee press ke dapur. Mencuci coffee press bukannya sulit, tapi perlu sedikit kesabaran dan ketelitian. Harus sabar membersihkan butir-butir kopi yang menyelip. Sisanya sih mencuci seperti biasa. Perasaan aneh itu muncul lagi. Antara senang setelah menikmati secangkir kopi dan kesal. Kesal karena proses membuatnya sekitar 10-15 menit, mencucinya susah, eh masa habis dalam kurang dari 5 menit?

Tapi, perasaan kesal itu tidak bertahan lama. Ia telah diusir oleh senyuman yang kembali muncul. Saya menyadari, ya seperti itulah hidup. Butuh proses. Kalau mau instan juga bisa dan ada banyak yang menawarkan. Itupun tidak salah. Tapi, tetap rasanya akan berbeda dengan yang prosesnya lebih panjang dan perlu perjuangan. Selain itu, untuk mencapai apa yang diinginkan, baik secara instan maupun tidak, ada serangkaian langkah yang mau tidak mau harus dijalani. Terkadang memang merepotkan dan membuat kesal. Tapi, percaya saja, tidak ada yang sia-sia. Pada akhirnya kita akan duduk tenang sambil menikmati mimpi yang telah bermetamorfosis menjadi kenyataan. Tak lupa, menyadari bahwa tidak ada yang abadi. Ia suatu saat akan habis juga dan kita perlu kembali mengalami rangkaian proses tersebut demi mendapatkannya lagi. Tak apa, dijalani saja. Bukankah hidup kita memang senantiasa dalam perjalanan? 🙂

20121212-192905.jpg
Picture taken from here.

The Bomb Has Exploded, None Was Saved.

So I’ve been growing a bomb.
Just a small one, but it grows a little bigger each time.
I know, one day it would become too big.
I know, one day I would no longer be able to handle it.
I know, one day….it would explode.

And it has exploded.
A huge explosion.
Much greater than I could’ve ever imagined.
Everybody was scared, and I was too.
Even the King knelt down asking for mercy.

Too late…
The bomb has exploded. None was saved.

20121116-191441.jpg
Picture taken from here

This Too, Shall Pass.

Gloomy days, teary eyes.
I’m questioning about life.
I thought I’d come to a happy ending.
Why must all these things happened?
Should it end this way?
Why?

I’ve come to the answer.

Life has never been easy.
Life has been a suffering itself.
No one to blame, nothing to curse.
Just accept it as it comes.
No worries.
Nothing’s forever.
Storms will be over.
Rainbow’s waiting.
Yes, this too, shall pass…

Semarang, November 3, 2012
11:11

20121103-112401.jpg
Image is taken from here.

Menerima Kehilangan, Berdamai dengan Realita

Sering kali kita tidak menyadari bahwa kita telah terlalu terbiasa dengan keadaan kita saat ini. Dengan setiap detail kecil yang mengisi hari-hari kita. Dan, ketika satu saja dari sekian banyak detail kecil tersebut mendadak lenyap, kita akan merasakan ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang kurang dalam hari kita. Ada sesuatu yang seharusnya ada, tetapi tidak ada. Ada sesuatu yang secara tidak kita sadari, begitu mempengaruhi jalannya hari kita. Sesuatu yang sebelumnya kita anggap biasa saja, bahkan tidak bermakna.

Sayangnya, sering kali juga kita baru mengerti maknanya setelah sesuatu itu tidak lagi ada. Ketika yang tersisa tinggal kekosongan. Padahal, yang hilang belum tentu sesuatu yang menyenangkan bagi kita, yang memang selalu kita tunggu kedatangannya. Bisa saja hanya hal sepele.

Bagaimanapun juga, pada akhirnya kita dipaksa menghadapi kenyataan, bahwa dunia memang telah berubah, selalu berubah, dan masih akan terus berubah. Tidak ada yang abadi. Terima saja. Belajar berdamai dengan realita. It’ll pass.