Mencuri Ilmu Dewi ‘Dee’ Lestari di Dee’s Coaching Clinic Jakarta

Setelah diadakan di Solo, Medan, dan Surabaya, Dee’s Coaching Clinic kembali diadakan. Kali ini event dilaksanakan di Ruang Auditorium Perpustakaan Bank Indonesia pada Minggu, 5 April 2015. Seperti yang telah diadakan sebelumnya, terdapat dua puluh peserta coaching clinic dan beberapa media yang meliput event. Jika di coaching clinic Medan ada Ika Natassa sebagai tamu, pada coaching clinic ini ada Trinity, Jenny Jusuf, Alexander Thian, dan Sica Harum. 

Sambil menunggu Dee dan semua peserta tiba, para peserta yang sudah hadir dipersilakan ngopi atau ngeteh dulu. Setelah Dee tiba, para peserta diajak berfoto bersama di ruang perpustakaan. Ini kali kedua saya bertemu Dee dan masih speechless waktu bertemu. Saya cuma bisa menyapa dan Dee menyapa balik dengan sangat ramah. Padahal, dalam hati saya rasanya sudah ingin berteriak, haha. Niat mau ambil posisi di barisan depan dekat Dee gagal saat ada peserta yang ‘nyelonong’ datang dan bilang mau mengambil posisi di tempat saya berdiri. Nasib agak tinggi juga, sih. Tapi setidaknya saya jadi berdiri di samping Trinity! How cool is that! šŸ˜‰ 

 

Kemudian, kami pindah ke ruang auditorium dan acara pun dimulai. Pada awal acara, Dee menyampaikan bahwa event Dee’s Coaching Clinic berbeda dengan workshop dimana peserta diberi materi kemudian berlatih menulis. Coaching clinic pada dasarnya adalah sesi QnA yang biasa ada pada talkshow. Namun, pada talkshow biasanya hanya mendapat jatah lima belas menit terakhir, yang bertanya hanya satu atau dua orang dan terburu-buru sehingga kurang maksimal. Dee ingin membuat suatu forum untuk tanya jawab yang intensif. Dee’s Coaching Clinic menjadi sarana bagi kami yang mempunyai pertanyaan-pertanyaan tentang menulis, serta sarana bagi Dee untuk mempelajari apa saja kendala yang biasa dialami penulis. Dalam menjawab pertanyaan, Dee kerap memberi contoh dari buku-buku yang telah ia tulis karena ia merasa lebih tahu dibanding jika memberi contoh dari buku lain. Berikut hasil catatan saya dari acara ini, semoga bisa membantu šŸ™‚


Proses Menulis Kreatif

Apa sih yang disebut proses menulis kreatif? Dee membalik pertanyaan menjadi “apa sih yang tidak termasuk proses menulis kreatif?” Yaitu tesis, skripsi, dan lain-lain. Walaupun katanya kalau skripsi juga perlu kreatif kalau malas, hahaha. Jadi, yang termasuk proses kreatif menulis misalnya menulis prosa, puisi, atau fiksi dengan tujuan menghibur dan sharing pengalaman manusia.


Tokoh

1.  Tokoh yang kuat yaitu:

  • tokoh yang mempunyai keistimewaan yang dapat membuat kita merasa iri dengan tokoh tersebut dan menimbulkan komentar “pengen kayak dia”
  • tokoh yang relatable atau mirip dengan diri sendiri, yang bikin orang berkomentar “kamu kayak saya”, karena berarti tokoh tersebut manusiawi
  • karena manusiawi, berarti tokoh tersebut punya kelemahan. Di sini Dee mencontohkan Alfa yang walaupun tampak sempurna namun sebenarnya dia punya kekurangan yaitu clueless soal perasaan atau wanita
  • tokoh yang mempunyai kualitas menarik simpati, misalnya tokoh yang berkorban dan selfless
  • 2. Mendeskripsikan tokoh

    “Ketika kamu ngomongin deskripsi, ingat satu hal. Deskripsi itu paling bagus dicicil, jadi jangan dimampatkan dalam satu paragraf. Please. Terutama kalau kamu harus menyangkut merk atau nama orang beneran. “Kecantikannya seperti Angelina Jolie.” Sebenarnya, pembaca itu lebih enak kalau kalian itu cuma ngasih sugesti. Nggak usah “mengingatkan pada Christine Hakim.” Boleh. Tapi menurut saya itu adalah cara yang malas.”

    Jadi, dekripsi tokoh harus dicicil. Dari cara tokoh bertutur, melihat sesuatu, atau pilihan dia terhadap makanan, dan lain-lain akan mengungkapkan karakter tokoh. Jni akan membuat seperti persahabatan yang dibangun pelan-pelan’ dibanding dengan mengintimidasi.

    “Cara yang paling elegan adalah pertama kita kenal karakter kita, tahu bahwa dia punya ini semua (kriteria tokoh yang kuat), kedua perkenalkanlah dia secara dicicil, pelan-pelan.”

    Dalam deskripsi, bumbu harus ada tapi jangan berlebihan karena menimbulkan kesan lebay dan melambatkan cerita. Jadi ‘just right’ atau pas. 

    3.  Memunculkan ‘suara khas’ tokoh

    Tokoh yang baik mempunyai suara khas yang membedakan tokoh tersebut dengan tokoh lainnya. Cara mengecek apakah tokoh kita mempunyai suara khas atau tidak yaitu setelah draft I selesai, kita membaca ulang dan menyuarakan atau membaca keras-keras draft kita. Sehingga, kalimat yang enak memang terdengar enak dan kalimat yang aneh terdengar aneh. Lalu, saat menyuarakan kita menghilangkan nama-nama tokoh. Kalau tokoh A, B, C, D terdengar sama suaranya, then you have a problem. Lalu bagaimana cara memunculkan suara khas? Berilah karakteristik atau cara tokoh berbicara, kita juga dapat memberi tahu pembaca melalui sugesti dalam deskripsi, misalnya bahwa tokoh mempunyai suara tinggi. Menunjukkan suara khas juga bisa dilakukan dalam dialog, misalnya Pak Kas di Partikel dan Pak Hadi di Madre berbicara dengan akhiran -ken. Contoh lain yaitu membedakan tokoh, ada yang menggunakan saya/aku, aku/kamu, aku/kau, gua/gue. Pesan dari Dee, yang penting jangan sekali pun pakai ‘gw’, nanti dijitak, LOL.

    “Deskripsi itu cukup sampai sugesti, karena pembaca punya kemampuan visualisasi, berkhayal, yang kalau kalian berikan kemerdekaan itu pada pembaca, itu akan membuat dia merasa memiliki cerita.”

    “Ini kesalahan banyak orang termasuk saya pun kadang sering melakukannya, yaitu penulis pengen nampil.”

    Bagi Dee, saat membaca cerita yang bagus kita tidak merasakan ada penulisnya. Pembaca hanyut sampai tulisan selesai dan penulis tetap di balik layar. Ini yang saya rasakan terutama waktu membaca Gelombang. Di Gelombang, Dee memang tidak membuat terlalu banyak kata-kata indah yang puitis dan membiarkan pembaca hanyut dalam cerita. Dengan menggunakan kata-kata indah atau puitis, cerita menjadi melambat dan penulis menjadi menunjukkan dirinya. Akibatnya, pembaca jadi merasa keluar dari cerita. Dee mengaku saat ini lebih memilih hemat gaya dan tetap di balik layar karena lebih challenging dan karena ingin mengedepankan cerita. Sebagai ilustrasi, Dee memberi contoh apabila Gelombang yang cukup tebal ditulis dengan gaya seperti Rectoverso, dimana hampir seluruh kata-kata dapat dikutip bak kata-kata mutiara, tentu pembaca akan lelah. 

    4.  Menjaga konsistensi karakter

     Agar kita dapat menjaga konsistensi karakter, Dee menyarankan sebaiknya kita mengenal karakter dulu sebelum menulis. Bahkan, kalau perlu pikirkan horoscope, hobi, cita-cita tokoh, dan lain-lain. Hal ini sekaligus menjadi suatu kegiatan yang fun, seperti anak SD jika disuruh menulis biodata. Walaupun, pada akhirnya data-data ini tidak ditulis dalam cerita, data-data ini berguna supaya ada keyakinan tentang karakter dan karakter ini sampai ke pembaca. Keyakinan ini juga dapat didukung dari riset dan wawancara, supaya muncul rasa percaya diri dan nyaman saat menulis. Keyakinan ini yang akan tertular pada pembaca.


    Persiapan Menulis

    Bagi Dee, ada dua hal utama yang menjadi ‘ritual’ sebelum menulis, yaitu:

       – konkretkan yang abstrak

          Intinya yaitu kita bertanya pada diri sendiri, mau menulis apa? Cerita apa yang pengen kalian baca? Lalu, buat premisnya. Dee mencontohkan premis dari novel Perahu Kertas, yaitu mengenai dua sahabat yang saling cinta namun terhalang oleh banyak hal, mereka berusaha mencapai cinta dan cita-cita.

       – kuantifikasikan yang kualitatif 

          Setelah itu, kita harus menyeberangkan harapan menjadi action. Harapan bagaikan DNA cerita atau premis. Di sini kita membayangkan hasil akhir, mau membuat buku setebal apa? Berapa kata? Mau di-publish kapan? Penerbit? Dari sini, kita dapat membuat target, mau menulis dalam berapa hari, misalnya 365 hari. Lalu, dalam 365 hari ini kita mau kerja berapa hari, dalam satu hari kerja berapa jam? Dari perhitungan ini, kita dapat memperkirakan berapa kata atau halaman yang perlu kita tulis dalam sehari. Ternyata, setelah dihitung-hitung, mungkin kita hanya perlu menulis setengah halaman sehari.

    Bahasa Supernova-nya keluar, LOL :p

    Deadline

    Deadline menjadi paling gampang dan efektif kalau kita sudah mendapat penerbit. Deadline sebaiknya diumumkan, misalnya ke keluarga, teman, atau kalau berani ke social media. Tujuannya untuk membuat pressure, supaya kata ‘dead‘ dalam ‘deadline‘ ini punya bobot. Dee membacakan ‘kontrak kerja supernova 6’-nya yang disahkan oleh suaminya kepada para peserta coaching clinic. Dee juga membuat perhitungan seperti yang dijelaskan di atas. Untuk supernova 6, Dee harus menulis sekitar 2 halaman sehari dan deadline untuk draft pertamanya yaitu…. *disensor demi hidup Ibu Suri yang lebih tenang, LOL*. Pokoknya dalam 2015 ini, karena setelah draft pertama jadi, masih ada proses yang cukup panjang sebelum buku dirilis.

    Reminder: Deadline sebaiknya menjadi tools atau alat, supaya menulis bukan hanya karena deadline. 


    Mood & Discipline

    Mengenai mood dan disiplin dalam menulis, Dee mengingatkan bahwa ‘menulis kalau lagi mood’ itu hanya mitos


    Personifikasikan Ide

    Dee percaya bahwa ide itu seperti partner yang punya ‘nyawa’. Kita sebenarnya ‘dicari ide’, bukan ‘mencari ide’. Dee mengilustrasikan alam ide dan bumi yang terpisah. Alam ide merupakan alam chaos yang membutuhkan kendaraan supaya bisa ke bumi. Ide ‘mencari inangnya’ di Bumi. Cara supaya kita dapat menjadi inang bagi ide yaitu dengan banyak mengamati, melamun, mengasah kepekaan (angin, bau, dll).

    Kita harus mulai berpikir bahwa “benda mati mempunyai cerita”, agar kita dapat menghargai semua hal yang bisa menjadi cerita. Misalnya, dari mengikuti kursus membuat roti, Dee mengetahui bahwa ada yang namanya adonan biang yang dapat hidup hingga puluhan atau ratusan tahun. Dee tertarik dan mencari tahu lebih lanjut mengenai adonan biang ini dan lahirlah novelet Madre.

    Tips: biasakan mencatat ide di notebook atau smartphone, tujuannya untuk membuat relationship yang bagus dengan ide.

    Pemetaan Cerita (Kerangka Cerita)

    Sebelumnya, Dee mengaku tidak mengenal yang namanya ‘drama tiga babak’. Dee hanya membuat semacam timeline, misalnya pada tahun berapa tokoh lahir, lalu pada tahun berapa saja terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam cerita. Drama tiga babak ini biasa digunakan dalam skenario-skenario film, namun Dee juga menggunakannya dalam menulis buku. 

    Dalam membuat drama tuga babak, kita membuat terminal-terminal dari titik A (awal cerita) hingga titik B (akhir cerita). Dari terminal-terminal ini kita membaginya menjadi tiga babak yaitu tesis (I), antitesis, dan sintesis (III) atau solusi cerita. Antitesis sendiri dibagi menjadi dua yaitu babak IIA dan IIB. 

    Tesis menjadi awal dan pengenalan cerita atau tokoh, yang saat itu terjadi. Lalu pada tesis kita menanam calon-calon konflik. Misalnya, Elektra suka petir dan sebal dengan kakaknya. Tesis merupakan status quo, sebelum perubahan. Lalu ada katalis yang memicu konflik atau mengeluarkan tokoh dari zona nyamannya. Pada antitesis, muncul masalah-masalah yang seharusnya tidak terjadi. Pada babak IIB, masalah menjadi semakin dalam. 

    Dalam membuat pemetaan cerita, kita dapat membuat mind map. Pada mind map, kita mencatat peristiwa-peristiwa dan semua hal yang terpikirkan.

    Karakter di titik A (awal cerita) dan di titik B (akhir cerita) harus berubah setelah mengalami peristiwa-peristiwa. Tokoh mengalami perjalanan menuju perubahan. Kalau karakter tidak berubah, cerita yang sudah dibuat panjang lebar tidak ada artinya.

    Menggemukkan Narasi

    Untuk menggemukkan narasi, kita dapat mengembangkan tokoh lain, misalnya keluarga atau teman tokoh. Siapa saja mereka, bagaimana latar belakangnya, dan punya hubungan apa dengan tokoh lain dalam cerita.

    Deskripsi

    Yang dapat dideskripsikan yaitu pengecapan, visual, penciuman, tekstur, gerakan atau motion, dan God’s presence. Deskripsi sebaiknya dibuat lebih detail, misalnya dalam mendeskripsikan tokoh berjalan, kita dapat menuliskan dengan lebih detail, misalnya berjalan terpincang-pincang atau menyeret. Dee mencontohkan kalimat yang tidak detail, yaitu “Seseorang berjalan menuju ruang kelas”. Kita dapat menjelaskan lebih lanjut, siapa seseorang ini, berjalan memakai apa, ruang kelasnya seperti apa. Namun, perlu diingat juga untuk tidak berlebihan dalam berdeskripsi.

    Deskripsi penciuman selama ini jarang digunakan karena terkadang sulit atau tidak terpikirkan. Deskripsi penciuman juga bisa dengan mendeskripsikan uap (dingin/hangat). Menuliskan “aroma melati” dan “aroma uap melati” pun sudah menimbulkan kesan yang berbeda.

    Deskripsi juga jangan menyalahi logika. Penulis harus ingat sedang berbicara dari sudut pandang siapa. Kalau dari sudut pandang orang ketiga terbatas, penulis tidak bisa tahu isi pikiran tokoh lain, kecuali hanya menduga.


    Dialog

    Dialog merupakan esensnya konflik. Dialog yang perlu ditulis yaitu dialog dapat membuat cerita bergulir, menunjukkan sebab dan akibat, bukan dialog basa-basi yang tidak penting.

    Riset

    Riset dapat kita lalukan dari berbagai sumber, seperti pustaka, internet, wawancara, atau dengan mendatangi langsung lokasi. Riset yang disisipkan dalam cerita yaitu riset yang punya story, supaya riset dapat membantu membuat cerita lebih hidup.


    Karakter

    Karakter sebenarnya adalah kuli dari cerita, bukan sebaliknya. Kita merancang karakter sebagai konsekuensi dari cerita. Misalnya, tokoh memiliki karakter pekerja keras. Maka hidup karakter pun dibuat keras.

    Dalam memberi nama tokoh, Dee tidak pernah asal-asalan. Memberi nama tokoh sudah seperti memberi nama anak sendiri, sebaiknya mengetahui sejarah nama tersebut.


    Fiksi – Fakta

    Fiksi menjadi seperti fakta karena ada ‘suara’. Misalnya pada Partikel, segala hal tentang jamur menjadi seperti fakta karena ada suara dari Firas. “Jamur ini, Zarah, adalah makhluk berinteligensi tinggi.”

    Unique Voice Penulis

    Unique voice atau kekhasan penulis muncul karena jam terbang penulis. Unique voice Dee mendapat banyak pengaruh dari menulis lagu, sehingga diksi yang digunakan ada sedikit rima, tempo, dan mengalir. Dee menyukai diksi yang terbuka (“-a”), lalu menggabungkan hal yang teknis dengan kata-kata puitis. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas pada bagian awal dari buku-buku serial Supernova. 

    Dee kembali menyarankan penulis untuk menyuarakan tulisan untuk mengetahui apakah tulisan sudah enak atau belum.

    Judul

    Judul sebaiknya yang catchy, dan orang Indonesia tidak salah dalam mengeja judul. Judul dapat menjadi image bagi keseluruhan buku. Dee sendiri cukup berpikir jangka panjang dalam membuat judul buku. Judul buku sebaiknya bisa dikembangkan, misalnya jika nanti buku diadaptasi menjadi film lalu ada merchandise, kaos, dan lain-lain. 

    Perahu Kertas tadinya berjudul ‘Kugy & Keenan’, namun Dee disarankan oleh kakaknya untuk tidak menggunakan nama tokoh dalam judul buku. Contoh lain, Dee bisa saja memberi judul ‘Ben & Jody’ daripada ‘Filosofi Kopi’. Tapi, kira-kira keren mana, sih? šŸ˜‰


    Ending

    Ending cerita dibuat sesuai selera penulis. Dee suka happy ending. Untuk cerita pendek sah-sah saja kalau ending cerita menyedihkan, toh cerpen hanya beberapa halaman saja. Namun, untuk novel rasanya pembaca akan dibuat kesal kalau sudah menghabiskan waktu membaca novel yang tebal lalu akhir ceritanya sedih. Dee memisalkan jika ending novel Perahu Kertas dibuat sedih, Dee mungkin ingin membanting buku setelah selesai membaca :))

    Beta Reader

    Beta reader merupakan pembaca pertama kita. Pembaca dibiarkan membaca sampai selesai lalu diberi check list untuk mengecek apakah yang di ekspektasi penulis tersampaikan atau tidak. Misalnya, Alfa mah gitu orangnya. Eh maaf, salah fokus. Alfa dirancang menjadi tokoh yang songong, pintar, tapi clueless soal perasaan. Beta reader menilai apakah setelah membaca memang merasa tokoh seperti itu. Kalau kita membuat joke dalam cerita atau dialog, kita dapat mengecek apakah beta reader kita juga tertawa saat membaca bagian tersebut.

    Tips akhir dari Dee, menulislah untuk diri sendiri, tapi sebaiknya penulis punya figur pembaca ideal yang mau kita impress, yang seleranya sama dengan kita. Writing is a learning process. Dee pun mengaku masih belajar sampai saat ini. Dee’s Coaching Clinic ditutup dengan kata-kata yang (sepertinya) sama dengan coaching clinic sebelumnya. Menulislah seperti menggaruk gatal yang tak kunjung usai.

    Sekian laporan Dee’s Coaching Clinic Jakarta, terima kasih yang sudah menyempatkan membaca sampai akhir. Saya sengaja menulis selengkap mungkin dari yang saya dapat, semoga bisa bermanfaat šŸ˜€

    Terakhir, pamer foto sama Dee dong! Karena sebelumnya sudah pernah bertemu dan minta tanda tangan di semua buku, kali ini cuma minta tulisin nama di Gelombang dan tanda tangan di Supernova KPBJ edisi cover pertama yang baru saya dapat seminggu sebelum coaching clinic dan di CD OST Perahu Kertas. Yay! Terima kasih sudah membagi ilmu, Ibu Suri. Semoga bisa ketemu lagi, ngobrol-ngobrol lebih lama dan dengerin suaranya nyanyi live :”) oh iya, dan minta tanda tangan di kaset RSD yang tertinggal di Semarang :p haha